Negeri Pengemis

Pengemis adalah sebuah kata yang biasanya digunakan untuk memberikan istilah kepada orang yang suka meminta-minta. Beberapa orang sering mengistilahkan kata tersebut saat menemui atau melihat ada orang yang suka minta uang atau makanan kepada orang lain. Peristiwa seperti itu biasanya ditemui di beberapa tempat, seperti di jalanan, tempat makan bahkan ada yang di lingkungan rumah.

Jika kita perhatikan munculnya banyak pengemis bisa dikarenakan karena kurangnya kesejahteraan alias banyaknya kemiskinan, namun ada pula faktor tersebut dibarengi karena faktor malas untuk mencari nafkah dengan cara lain demi mendapatkan keuntungan yang lebih mudah dan praktis. Sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah dari pusat sampai daerah untuk menanggulangi masalah pengemis ini. Pimpinan pemerintah harus dapat mengurangi angka kemiskinan, menurunkan tingkat kesenjangan kesejahteraan diantara warganya, dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Lalu apakah istilah pengemis tersebut hanya terlihat pada kejadian-kejadian contoh tersebut ? ternyata sebenarnya bisa kita temui banyak istilah pengemis tersebeut pada beberapa sendi kehidupan. Pada sebuah negeri tertentu misalnya, bisa kita lihat ternyata istilah pengemis dapat ditemukan pada kalangan yang sebenarnya dapat dikategorikan orang yang mempunyai kesejahteraan yang mapan dan mampu. Jauh lebih sejahtera dibandingkan para pengemis yang sering ditemukan di jalanan-jalanan atau warung-warung makan.

Inilah contoh beberapa oknum para “pengemis tingkat elit” di suatu negeri tertentu :

  1. Oknum para pengusaha yang berusaha dengan jalan pintas meminta-minta mendapatkan proyek pemerintahan supaya mendapatkan tender kegiatan pemerintahan. Mereka berusaha memberikan sebuah fee tertentu kepada pejabat atau wakil rakyat demi mendapatkan proyek tersebut.
  2. Oknum para wakil rakyat yang mempunyai kewenangan dalam menyetujui sebuah anggaran, dengan kewenangannya tersebut, mereka dapat mengatur sebuah anggara negara dengan syarat mendapatkan bagian keuntungan dari hasil kewenangan tersebut.
  3. Oknum para pejabat yang mempunyai kekuasaan menjalankan pemerintahan daerah atau pusat. Dengan kewenangan kekuasannya, mereka dapat mengatur sebuah anggaran dana dapat diluncurkan untuk kegiatan apa dan kepada siapa dengan harapan mendapatkan keutungan dari pemberian kewenangan tersebut.
  4. Oknum para politisi yang berusaha mengemis kepada rakyat untuk mendapatkan dukungan dengan berbagai cara yang tidak terpuji, seperti dengan cara politik uang ataupun politik “hitam” demi terpilihnya mereka menjadi wakil rakyat atau menjadi penguasa. Belum pernah terlihat pada negeri tersebut ada seorang politisi dapat menjadi wakil rakyat ataupun pemimpin karena memang rakyatnya benar-benar tulus pilihan rakyatnya tanpa mengeluarkan modal uang ratusan juta rupiah bahkan miliaran, sehingga mereka bias menjadi wakil rakyat atau pemimpin tidak berusaha mencari kembalinya modal yang sudah mereka keluarkan untuk mencapai posisinya, tapi akan benar-benar mencari kesejahteraan rakyatnya.

Mudah2an contoh-contoh seperti itu tidak terjadi di negeri Indonesia yang kita cintai. Aamiin..

Tulisan ini dipublikasikan di Umum dan tag , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.